Pajak/upeti

Membayar pajak adalah perintah Alkitab yang ditegaskan oleh Yesus dan Rasul Paulus, sebagai pengakuan atas otoritas pemerintah. Contoh-contoh di seluruh Kitab Suci menggambarkan prinsip ini, sekaligus menunjukkan kasus-kasus pengecualian.

Tuhan tidak memihak

TUHANlah Allahmu. Dialah Allah atas segala ilah dan Tuhan atas segala tuhan, yang besar, kuat, dan Allah yang mengagumkan, yang tidak memihak atau menerima suap, (Ulangan 10:17)
Oleh sebab itu, milikilah rasa takut kepada TUHAN. Bertindaklah dengan saksama, sebab pada TUHAN, Allah kita, tidak ada kecurangan, keberpihakan, ataupun penerimaan suap.” (2 Tawarikh 19:7)
Siapa yang tidak memandang muka kepada para pembesar, dan tidak mengenal yang kaya lebih daripada yang miskin, karena mereka semua adalah buatan tangan-Nya? (Ayub 34:19)
Tuan-tuan, lakukanlah juga kepada hamba-hambamu. Berhentilah mengancam karena ketahuilah baik Tuanmu atau Tuan mereka sama-sama ada di surga, dan Ia tidak pilih kasih. (Efesus 6:9)

Kita tidak boleh memihak

Memandang muka itu tidak baik, karena demi sepotong roti, orang dapat melakukan pelanggaran. (Amsal 28:21)

Memihak itu dosa

Jika kamu menjalankan hukum utama sesuai dengan Kitab Suci, yaitu “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri,” kamu telah melakukan yang benar. Namun, jika kamu membeda-bedakan orang, kamu melakukan dosa dan dinyatakan sebagai pelanggar hukum oleh hukum. (Yakobus 2:8-9)

Jangan memihak kepada orang kaya

Saudara-saudaraku, jangan menunjukkan imanmu dalam Tuhan kita yang mulia, Yesus Kristus, dengan membeda-bedakan orang. Jika ada orang yang datang ke sinagogemu dengan memakai cincin emas dan pakaian yang mahal, dan pada saat yang sama, datang juga orang miskin yang berpakaian kotor, dan kamu memberikan perhatian khusus kepada orang yang berpakaian mahal itu dan berkata kepadanya, “Silakan duduk di tempat yang baik ini,” tetapi kepada orang miskin itu, kamu berkata, “Berdirilah di sana!” atau “Duduklah di dekat kakiku!” Bukankah kamu sudah membeda-bedakan di antara kamu dan menjadi hakim dengan pikiran-pikiran yang jahat? Saudara-saudara yang kukasihi, dengarkanlah! Bukankah Allah telah memilih orang yang miskin di mata dunia untuk menjadi kaya dalam iman dan mewarisi Kerajaan Allah yang telah Dia janjikan kepada mereka yang mengasihi Dia? Akan tetapi, kamu telah menghina orang miskin. Bukankah orang kaya yang menindas dan menyeretmu ke pengadilan? Bukankah merekalah yang menghujat Nama baik, yang olehnya kamu dipanggil? Jika kamu menjalankan hukum utama sesuai dengan Kitab Suci, yaitu “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri,” kamu telah melakukan yang benar. Namun, jika kamu membeda-bedakan orang, kamu melakukan dosa dan dinyatakan sebagai pelanggar hukum oleh hukum. (Yakobus 2:1-9)

Jangan memihak kepada orang miskin

...dan jangan pula berpihak pada orang miskin dalam perkaranya. (Keluaran 23:3)
Jangan melakukan kecurangan dalam pengadilan. Jangan berpihak, baik kepada orang miskin ataupun orang kaya dalam persidangan. Kamu harus mengadili sesamamu dengan adil. (Imamat 19:15)

Pemimpin / hakim tidak boleh memihak

Kamu harus memperlakukan semua orang sama apabila kamu mengadilinya. Kamu harus mendengarkan baik-baik setiap orang, baik orang kecil maupun besar. Jangan takut kepada siapa pun, karena keputusanmu dari Allah. Namun, masalah yang terlalu sulit bagimu, serahkanlah kepadaku dan aku akan mengadilinya. (Ulangan 1:17)
Pilihlah hakim dan petugas di setiap kota yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menurut suku-sukumu. Dan, mereka harus mengadili bangsa itu dengan hukum yang adil. Janganlah kamu memutar balikkan keadilan, janganlah memandang muka, dan janganlah menerima suap karena suap membutakan mata orang bijak dan memutarbalikkan kata-kata orang benar. (Ulangan 16:18-19)
Dia berpesan kepada hakim-hakim itu, “Waspadalah terhadap apa yang kamu lakukan, karena bukan untuk manusia kamu menghakimi, melainkan untuk TUHAN, yang menyertaimu ketika kamu membuat putusan hukum. Oleh sebab itu, milikilah rasa takut kepada TUHAN. Bertindaklah dengan saksama, sebab pada TUHAN, Allah kita, tidak ada kecurangan, keberpihakan, ataupun penerimaan suap.” (2 Tawarikh 19:6-7)

Terkutuk bila memihak

“Karena itu, Aku juga akan membuat kamu dihina dan direndahkan di hadapan seluruh bangsa ini karena kamu tidak memelihara jalan-jalan-Ku, tetapi pandang bulu dalam hal hukum.” (Maleakhi 2:9)

Sikap yang benar

Sehati sepikirlah seorang terhadap yang lain

Milikilah pikiran yang sama satu sama lain. Jangan memikirkan hal-hal yang tinggi, melainkan bergaullah dengan mereka yang dianggap rendah. Janganlah menganggap dirimu pandai! (Roma 12:16)

Anggaplah orang lain lebih utama daripada dirimu sendiri

Jangan melakukan apa pun dari ambisi yang egois atau kesombongan yang sia-sia; tetapi dengan kerendahan hati, anggaplah orang lain lebih penting daripada dirimu sendiri. (Filipi 2:3)